Friday, May 17, 2013

Akhir Sang Serigala

Di atas daratan, di ujung tebing, seekor serigala merajuk dalam sendu.
Sinar perak menyinari sebagian tubuhnya yang berbulu coklat gelap memudar.
Bagian terluar bulunya mengerak diselimuti debu dan salju yang teraduk menjadi satu.
Terduduk diatas altar yang tak sengaja terbuat, serigala itu membaca langit malam.

Lolongannya yang melemah makin hilang ditelan keheningan.
Matanya kosong memancarkan kisah akhir yang lembab dan pilu.
Pejantan alfa kini sekarat ditinggal kawanannya.
Bermilenium-milenium sudah ia menunggu ajal datang menjemput.

Makin mengurus, makin menyusut, tubuh serigala itu meringsut.
Cahaya berpendar dari air mata yang tak kuasa ia teteskan.
Hidup berakhir nestapa tak pernah ia bayangkan.
Ditemani kesendirian dan meninggalkan bayang-bayang.

Satu-dua masa berlalu, alasan untuk hidup tiada ia genggam.
Dengan segenap hati si serigala mengemis kematian.
Sejenak dalam sekali pusaran malam dan tanpa aral melintang,
tinggallah jiwa serigala yang pernah gagah tidur lebih damai dari yang pernah ada.

No comments:

Post a Comment