Tuesday, May 07, 2013

Untitled-11

Aku mampu rasakan, sinar matahari yang berusaha keras menghangatkanku, dari pelukan dingin malam yang mensunyikan. Dengan mudahnya membuatku terbujur kaku, melangkah pasti menuju kematian paling menyedihkan yang tak pernah ku ingini.

Aku mampu rasakan, derasnya aliran darah yang mengandung gas-gas keegoisan dan kebencian, menjalar sampai ke ujung syaraf. Mempengaruhiku. Membiarkanku larut dalam amarah yang menari gembira menguasaiku. Namun aku mampu rasakan, kehadiran pemaafan yang selalu hadir bagai oksigen. Mampu menetralisir darahku, menjernihkan. Mengelurkan racun-racun berbahaya yang lagi-lagi mampu mematikan, mematikan hatiku.

Aku mampu rasakan, luka baru yang menganga begitu lebarnya. Warnanya merah kebiruan. Entahlah, mungkin akan membusuk. Aku selalu mencoba melawan rasa pedih yang selalu muncul dengan hebatnya, dan di saat yang bersamaan membuatku lemah tanpa daya. Namun aku mampu rasakan, kekuatan dari dalam diri, berusaha melepaskan rasa sakit yang terus menerus menyerang. Pasrah. Ku biarkan luka ini menggerogoti diri, karena ku tahu, semakin ku melawan semakin perih yang ku dapatkan.

Aku mampu rasakan, aliran hangat dari ujung mata dan berlari-lari kecil melewati pipiku. Namun aku mampu rasakan, angin disini ternyata begitu baik untuk mau menghilangkan, menerbangkan, dan mengeringkan bentuk lain dari duka yang tak tertahankan itu.


Maka, dalam kesendirian yang mengulum diriku dari subuh hingga surut, ku nikmati ngilu-ngilu yang terus mengoyak.

Dan sebagai doa usang yang tak diharapkan lagi, ku coba mendoakan diriku sebagai doa baru yang kembali dinyalakan, agar tak redup dipadamkan malam.

No comments:

Post a Comment