Seperti dipaksa memutar jarum jam ke arah berlawanan
Kembali pada kala kita belum saling berbagi rasa, saat tawa tiada arti apa-apa, ketika tangis bukan akhir segala
Berpura-pura saling tak mengenal, berperang tanpa pedang, berlomba menang atas kekalahan yang kita sendiri ciptakan
Lalu mulailah kita mencobai Tuhan
Mengukuh-buktikan apakah ungkapan “jodoh tiada ke mana” benar adanya
Kita salah
Aku dan kamu tetap berlari, namun kini kian menjauh, berlawan arah
Aku dan kamu masih berjalan, hanya kini tak lagi bersisian
Aku dan kamu terpaksa merangkak, mencoba samarkan luka yang kian mengerak
Setelah tak ada lagi kita, tetaplah temukan bahagia
Sekalipun bukan lagi aku dan kamu sebagai porosnya
Ruth Dian Kurniasari, 15 Agustus 2012
No comments:
Post a Comment