Monday, May 13, 2013

Aku, Tidak Di Hari Ini

Entahlah, aku kehilangan makna dari adanya hari menyedihkan dalam hidup seseorang. 
Makna putih. Apa ada?

Proses pengasingan, menjadi seseorang yang asing apakah itu proses yang memang seharusnya?
Aku tak tahu pasti, tapi rasanya semua orang melewati proses itu.
Tapi sadarkah mereka, itu justru proses paling menyakitkan?

Melihat seseorang yang sebelumnya ku kenal baik, melangkah dengan kain pembungkus lain di hadapanku.
Aku, bahkan tak mampu menatapnya. Karena pandangan yang ku punya hanyalah rindu, rindu, rindu, dan asing.
Apa? Tak kau lihat seluruh kornea mataku dilapisi dinding rindu? Cahaya di mataku tak lagi jernih, air mataku kering.

Pada akhirnya, yang membisu menjadi sasaranku. Tembok, lantai, udara, awan, mereka yang tahu kekecewaan dan kesedihan batin yang tak tampak. Mungkin ketika lengah, mereka justru menertawakanku, di akhir cerita.

Aku tahu kau terluka. Aku tahu.

Dan aku heran mengapa ada bulan sabit malam ini. Milik siapa?
Jelas-jelas itu bukan milikku, atau mungkin milikmu?

Aku tak tahu apa di belahan bumi yang lain kau sedang berada dalam gemerlap cinta sejatimu,
atau, aku tak tahu apa sedang ada perayaan yang diimani seluruh lapisan yang berpijak selain aku yang remuk redam di ruang pesakitan,
sehingga... ya sehingga bulan sabit itu muncul dan bertengger manis di atap dunia.

Lalu, jejak yang satu itu. Kemana dia menghilang?
Padahal baru saja aku memikirkannya, apa iya sudah waktunya?

Aku tak mampu lagi mengerti atas hari ini. Jika esok menjadi pengikut, maka bertambahlah ketidakmengertianku dalam menjalani hari-hari di hidupku.
Rasanya kata-kata mutiara hanya akan menjadi mentah, maka sepertinya aku sedang tak butuh komentar siapapun atas hal-hal lucu di hari ini.

Sampai kapan?
Sampai kapan pengasingan ini terus berlanjut?
Mengapa tak sekalian kau sediakan gubuk untuk ku kau asingkan, mungkin dengan sedikit sentuhan modern di dalamnya.

Agar aku tak lagi jadi bisamu.
Agar aku  tak lagi jadi lukamu.


Maka untukmu, tak ada lagi bisa, tak ada lagi luka.

No comments:

Post a Comment